Example floating
Example floating
DaerahDumai

Tradisi Pernikahan Adat Melayu Tetap Lestari di Dumai

mediaaktualitas
0
×

Tradisi Pernikahan Adat Melayu Tetap Lestari di Dumai

Sebarkan artikel ini

DUMAI, mediaaktualitas.com

Di tengah pesatnya perkembangan tren pernikahan modern yang mengusung konsep minimalis maupun bernuansa internasional, masyarakat Kota Dumai tetap menunjukkan komitmen dalam menjaga warisan budaya Melayu.

Hingga kini, prosesi pernikahan adat Melayu masih menjadi pilihan banyak pasangan sebagai bentuk penghormatan terhadap adat istiadat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Baca juga:Anak Tempatan Dumai Merasa Jadi Penonton di Tengah Pesatnya Industri 

Tradisi tersebut tidak hanya dipandang sebagai rangkaian seremonial, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya, penghormatan kepada orang tua, serta doa dan harapan bagi kehidupan rumah tangga kedua mempelai.

 

Prosesi Pernikahan Adat Melayu Masih Dipertahankan

Berdasarkan pantauan di sejumlah pesta pernikahan warga Dumai, tahapan adat Melayu masih dilaksanakan secara lengkap mulai dari merisik, meminang, malam berinai, arak-arakan pengantin, buka pintu hingga prosesi tepuk tepung tawar.

 

Pada tahap merisik, keluarga calon mempelai pria terlebih dahulu mencari informasi mengenai calon pengantin wanita sebelum dilanjutkan dengan prosesi meminang menggunakan hantaran tepak sirih sebagai simbol kesungguhan.

  • Prosesi pernikahan adat Melayu di Kota Dumai yang masih dilestarikan masyarakat sebagai warisan budaya.

Selanjutnya digelar malam berinai, yaitu tradisi menghias kuku pengantin menggunakan inai yang melambangkan kesucian, doa keselamatan, dan kesiapan memasuki kehidupan rumah tangga.

 

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan berarak dan buka pintu, di mana rombongan pengantin pria diiringi tabuhan kompang menuju kediaman mempelai wanita.

Sebelum memasuki rumah, kedua belah pihak saling berbalas pantun sebagai bagian dari tradisi yang sarat makna sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan.

 

Tepuk Tepung Tawar Menjadi Puncak Prosesi Adat

Puncak rangkaian adat ditandai dengan pelaksanaan tepuk tepung tawar. Dalam prosesi ini, tokoh adat, keluarga, dan para tetua secara bergantian memercikkan air mawar serta menaburkan beras kunyit kepada kedua mempelai sebagai simbol doa restu agar rumah tangga yang dibangun memperoleh keberkahan, keharmonisan, dan keselamatan.

Salah seorang warga yang menyaksikan prosesi tersebut mengatakan bahwa adat Melayu merupakan identitas yang harus terus dijaga oleh generasi penerus.

“Adat ini adalah identitas kami. Orang Melayu mengatakan, Biar mati anak, jangan mati adat. Menjalankan prosesi adat ini adalah bentuk penghormatan kami kepada orang tua dan leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai luhur,” ujarnya kepada jurnalis Mediaaktualitas.com.

 

Warisan Budaya yang Perlu Dijaga

Keberlangsungan tradisi pernikahan adat Melayu di Kota Dumai menjadi bukti bahwa modernisasi tidak harus menghilangkan identitas budaya.

Dengan tetap melaksanakan setiap tahapan adat, masyarakat tidak hanya melestarikan tradisi leluhur, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai budaya Melayu kepada generasi muda agar tetap hidup dan berkembang di masa mendatang.

 

Laporan:Beng/Jebat

Penerbit Redaksi mediaaktualitas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *