SIAK, mediaaktualitas.com –
Dari pesisir Kota Dumai, sebuah perjalanan penuh makna dimulai. Menyusuri alur Sungai Siak yang sejak berabad-abad silam menjadi urat nadi perdagangan di Selat Malaka, Wan Ade Syahputra bersama empat kerabatnya melakukan Ziarah Agung untuk menelusuri jejak sejarah Kesultanan Siak Sri Indrapura.
Baca juga:Geger! Dokter Spesialis Ditemukan Tewas di Semak-Semak Samping RSUD Siak
Perjalanan tersebut bukan sekadar kunjungan ke situs-situs bersejarah, melainkan ikhtiar untuk menjaga marwah leluhur, merawat warisan budaya Melayu, sekaligus menghidupkan kembali memori tentang kejayaan salah satu kerajaan Melayu terbesar yang pernah menguasai pesisir timur Sumatera.
Sebagai salah seorang Ahlul Bait Kesultanan Siak Sri Indrapura, Wan Ade Syahputra memimpin langsung perjalanan spiritual dan historis itu. Baginya, sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga diwariskan kepada generasi penerus agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Buantan, Tempat Lahir Kesultanan Siak
Destinasi pertama rombongan adalah Buantan, lokasi berdirinya Kesultanan Siak Sri Indrapura pada tahun 1723 oleh Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah atau Raja Kecik.
Di kompleks makam Raja Kecik, suasana hening menyelimuti prosesi ziarah. Lantunan ayat suci Al-Qur’an dan doa tahlil dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan kepada pendiri Kesultanan Siak.
Bagi rombongan, Buantan bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir Raja Kecik. Kawasan tersebut merupakan titik awal lahirnya pemerintahan yang kemudian berkembang menjadi kekuatan politik, ekonomi, dan maritim di kawasan pesisir timur Sumatera.
Dari wilayah inilah armada Kesultanan Siak berkembang, menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka hingga menjadikan kawasan-kawasan pesisir, termasuk Dumai, sebagai bagian penting dalam jaringan pelayaran kerajaan.
“Kami ingin mengingat kembali bahwa kejayaan Kesultanan Siak berawal dari sini. Sejarah ini harus tetap hidup dan dikenal generasi muda,” ungkap Wan Ade Syahputra.
Dumai, Gerbang Pelayaran Imperium Melayu
Dipilihnya Kota Dumai sebagai titik awal keberangkatan bukan tanpa alasan.
Dalam catatan sejarah, Dumai merupakan kawasan pesisir yang memiliki posisi strategis di jalur pelayaran Selat Malaka. Wilayah ini menjadi pintu masuk perdagangan, tempat persinggahan kapal-kapal, serta salah satu kawasan yang memiliki hubungan erat dengan perkembangan Kesultanan Siak.
Keberangkatan dari Dumai menjadi simbol bahwa hubungan historis antara kota pesisir tersebut dengan Kesultanan Siak masih terus dijaga oleh para keturunannya.
Perjalanan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa kejayaan sebuah kerajaan tidak hanya dibangun dari pusat pemerintahannya, tetapi juga oleh wilayah-wilayah penyangga yang menopang aktivitas perdagangan, pelayaran, dan pertahanan.
Menapaki Jejak Kejayaan di Istana Siak
Usai berziarah ke Buantan, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Istana Siak Sri Indrapura, simbol kejayaan Kesultanan Siak yang hingga kini masih berdiri megah sebagai saksi bisu perjalanan sejarah Melayu.
Di kawasan istana, Wan Ade Syahputra bersama rombongan kembali mengenang perjalanan panjang para sultan yang membangun kejayaan kerajaan hingga mencapai puncaknya sebagai salah satu kekuatan besar di kawasan Selat Malaka.
Rombongan juga melaksanakan ziarah ke Kompleks Makam Koto Tinggi, tempat dimakamkannya para Sultan Siak, termasuk Sultan Syarif Kasim II yang dikenal sebagai sultan terakhir Kesultanan Siak.
Sultan Syarif Kasim II dikenang sebagai tokoh yang menyerahkan kedaulatan kerajaan beserta sebagian besar kekayaan Kesultanan Siak kepada Republik Indonesia setelah kemerdekaan, sebagai bentuk dukungan terhadap berdirinya negara yang baru lahir.
Merawat Marwah, Menjaga Warisan Sejarah
Bagi Wan Ade Syahputra, Ziarah Agung bukan hanya perjalanan spiritual, melainkan bentuk tanggung jawab moral untuk menjaga kesinambungan sejarah Melayu.

Melalui kegiatan tersebut, ia berharap masyarakat, khususnya generasi muda, semakin mengenal perjalanan panjang Kesultanan Siak, memahami nilai-nilai perjuangan para leluhur, serta ikut menjaga warisan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas bangsa.
“Sejarah tidak boleh berhenti di buku. Sejarah harus terus diceritakan, dipelajari, dan diwariskan agar anak cucu mengetahui dari mana jati diri mereka berasal,” tuturnya.
Perjalanan yang dimulai dari Dumai hingga berakhir di Istana Siak menjadi simbol bahwa jejak kejayaan Kesultanan Siak masih hidup dalam ingatan para pewarisnya. Melalui Ziarah Agung, sejarah bukan sekadar dikenang, tetapi terus dihidupkan sebagai warisan berharga bagi generasi masa depan.
Laporan Bembeng/Jebat
Penerbit Redaksi mediaaktualitas








